MK Hapus Syarat Kuorum Hak Menyatakan Pendapat

Majelis Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan uji materi Pasal 184 ayat (4) UU No 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) yang diajukan sejumlah anggota DPR. Pasal itu mengatur tentang syarat kuorum hak menyatakan pendapat yang dimiliki DPR.

“Menyatakan Pasal 184 ayat (4) bertentangan dengan UUD 1945, dan tidak mempunyai kekuatan mengikat,” ucap Ketua Majelis  Moh Mahfud MD saat membacakan putusan di Gedung MK, Jakarta, Rabu (12/1).

Seperti diketahui, beberapa anggota DPR di antaranya Lily Hadidjah Wahid, Bambang Soesatyo, dan Akbar Faizal mengajukan uji materi Pasal 184 ayat (4) UU MD3. Pasal itu menentukan hak menyatakan pendapat harus mendapat persetujuan ¾ dari jumlah keseluruhan anggota DPR dalam rapat paripurna DPR dan keputusannya minimal ¾ dari jumlah anggota  DPR yang hadir.

Pasal itu dianggap bertentangan dengan Pasal 7B ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan usul pemberhentian presiden dan wakil presiden ke MK harus memperoleh 2/3 dukungan dari jumlah anggota DPR yang hadir. Pasal 184 ayat (4) dinilai memunculkan penambahan syarat kuorum dari 2/3 menjadi ¾ karena akan lebih mempersulit pelaksanaan hak menyatakan pendapat khususnya hak usul pemberhentian presiden dan wakil presiden ke MK.

Mahkamah menyatakan Pasal 184 ayat (4) UU MD3 mengatur semua jenis hak menyatakan pendapat baik berdasarkan Pasal 20A UUD 1945 (lex generalis) maupun Pasal 7A dan Pasal 7B UUD 1945 (lex specialis). Semua jenis hak itu mencakup hak DPR untuk menyatakan pendapat atas kebijakan pemerintah, kejadian luar biasa, tindak lanjut hak interpelasi dan hak angket, serta dugaan Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum.

“Pasal 184 ayat (4) UU MD3 khusus terkait usul menyatakan pendapat mengenai dugaan Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum baik berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden atau Wakil Presiden tidak sejalan dengan maksud dan semangat konstitusi,” tutur Hakim Konstitusi Hamdan Zoelva.

Menurut Mahkamah, memperberat syarat penggunaan hak menyatakan pendapat DPR dengan menentukan syarat quorum maupun syarat persetujuan keputusan DPR, paling sedikit ¾ kehadiran dan persetujuan ¾ anggota yang hadir, mempersulit pelaksanaan hak dan kewenangan konstitusional DPR.

Aturan itu mengakibatkan tidak efektifnya DPR melaksanakan fungsi pengawasan terhadap Presiden, sehingga tidak sejalan dengan sistem checks and balances yang dianut dalam UUD 1945. “Aturan itu dapat berakibat terjadinya pelanggaran dalam proses kontrol terhadap Presiden dan Wakil Presiden yang merupakan pelemahan terhadap demokrasi,” kata Hamdan.

Karena itu, syarat pengambilan keputusan DPR untuk usul menggunakan hak menyatakan pendapat mengenai dugaan Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum tidak boleh melebihi batas persyaratan yang ditentukan oleh Pasal 7B ayat (3) UUD 1945. Bahkan, tingkat usul penggunaan hak menyatakan pendapat, persyaratan pengambilan keputusan DPR harus lebih ringan dari persyaratan yang ditentukan Pasal 7B ayat (3) UUD 1945.

“Jenis hak menyatakan pendapat atas kebijakan Pemerintah, kejadian luar biasa, dan tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket harus lebih ringan daripada persyaratan pendapat DPR terkait pengajuan permintaan DPR kepada MK yang berhubungan dengan proses pemberhentian Presiden sesuai Pasal 7B ayat (3) UUD 1945,” tuturnya.

Karena itu, ketentuan persyaratan pengambilan keputusan mengenai usul penggunaan hak menyatakan pendapat  berlaku ketentuan mayoritas sederhana untuk jenis hak menyatakan pendapat yang bersifat umum sesuai pelaksanaan Pasal 20A UUD 1945.

Kuasa hukum pemohon, Maqdir Ismail menyambut baik putusan ini. Ia mengatakan adanya putusan tersebut akan lebih mempermudah persyaratan kuorum anggota DPR menggunakan hak menyatakan pendapat.

“Untuk hal-hal tertentu, ini (penggunaan hak menyatakan pendapat) berlaku suara mayoritas minimum. Ini kita artikan tidak hanya syarat 2/3, tetapi bisa berlaku syarat 50 persen plus 1,” kata Maqdir usai sidang pembacaan putusan.

Menurut Maqdir, dengan adanya putusan ini proses usul hak DPR untuk impeachment (pemakzulan) Presiden dan atau Wakil Presiden ke MK kembali ke Pasal 7B ayat (3) UUD 1945. Sebab, selama ini UU MD3 seolah-olah melindungi pemerintah dari proses impeachment lewat keberadaan Pasal 184 ayat (4) UU MD3.

 

5 Comments

Filed under BERITA

5 responses to “MK Hapus Syarat Kuorum Hak Menyatakan Pendapat

  1. Zaimah binti Abdl. Mutholib

    Abang dan kakak, janganlah opini benar ini dihapus. Lebih baik share sahaja dengan teman-teman lain. Berjudul: Kemunafikan kelicikan media televisyen Indon(esia), atau, “Pandai”

    Sudut pandang dibuat selalu tumpul (mengapung). “Teruk” sangat bila kita tengok selalu liputan televisyen-televisyen swasta negeri jiran macam Metro TV juga mengenai sebuah kampung idiot di Balong. Macam mana kita menilai. Liputan tersebut diatur tumpul sahaja iaitu dengan menarik ke masa lampau bahawa idiotisme warga Balong itu bukan kerana keadaan baru-baru ini melainkan sudah lama sejak tahun 1980an.

    Apa maknanya ini? Ini bermakna bukan kerana peemrintah (kerajaan) hari ini dalam SBY tetapi kerana kerajaan-kerajaan terdahulu. Kerajaan SBY sekarang dicuba diamankan terlepas banyak kekurangan dan kesalahan. Kumpulan-kumpulan lintas beragama negeri jiran tu cuba dan bermaksud menunjokkan terang pada kerajaan bahawa yalah penting memulakan kesejahteraan seluruh penduduk merata dan dengan sistem pengawasan yang benar. Televisyen-televisyen pemberitaan itu kurang membela kumpulan tersebut.

    Pabila macam ni terus-terusan, pemberantasan pelbagai mafia dan pelbagai soalan apapun yang lain di negeri jiran tu nak mentah lagi dan tak nak mungkin terselesaikan. Televisyen-televisyen tu kerana tidak ambil sikap terang melainkan selalu membuat samara dan mengapungkan sendiri cerita daripada pemberitaannya. Nilai cerita nol besar dan mereka rupanya turut mempermainkan perasaan masyarakat tu.

    Sedikit sangat wartawan televisyen negeri tu berpengetahuan jurnalisme yang membuat terang bagi membela warganya. Mereka pandai mengulas tak, pada isu-isu penting dan terhad macam isu idiotisme Balong menjadi sorotan yang nak membuat masyarakat boleh tarik kesimpulan bahawa kerajaan nak tertuding, dan justeru menumpul.

    Berlaku justeru wartawan televisyen tampak menyerang nara sumber, macam yang berlaku terhadap aktivis Jhonson Panjaitan, walaupun wartawan tu langsung berdalih dan menyangkal.

    Televisyen-televisyen jiran tu tiap hari mengulas pelbagai hal panas namun pabila diteliti tak ada makna ulasannya penting dalam begitu banyak cerita yang dibuat. Mereka memiliki human resources baik, tetapi tidak cukop dilatih ambil sudut pandang yang menunjokkan pada sebuah kebenaran terang. Mereka pun berani tak.

    Pemilik televisyen, sementara, berkepentingan suatu masalah besar tetap direka mengapung tumpul, sehingga segala masalah mentah lagi. Di belakang pemilik televisyen-teelvisyen tampaknya ada pula orang parti politik kuat atau mantan. Tetapi yang mengandungi wang itu yalah pebisnez-pebisnez etnik Cina, macam di Malaysia juga, mereka pemegang asset-aset penting. Seakan-akan ambil peduli pada rakyat tetapi bukan itu tujun dan sesungguhnya.

    Isu dibuat dan ditulis seakan-akan membela rakyat, tetapi semata jualan pengkhabaran. Semata mengeruk keuntungan iklan sebesar-besarnya, tentu dengan isu-isu panas sangat mengaduk-aduk peraasan rakyat yang merindukan mimpi yang tak kunjung datang.

    Pepatah berkata: “Belanda harus dibuat jauh”. Liputan sekana-akan menuju provokesyen, protes-protes besar ataupun rusuhan meluas, tetapi begitu menajam maka mereka dinginkan lagi. Katanya kerana diancam via telepon. Macam tulah etnik Cina negeri jiran tu, pandai. Orang bumiputera di Indonesia pasti kalah cara dalam berfikir. Otak mereka, pun otak kita, tidak sampai ke sudut puncak sana. [Pabila punya opini lain, sila majukan ke kami: zaimahbintiabdulmutholib@msckl.my ]

  2. Ibu Ida Surabaya

    Permainan melelahkan orang-orang Golkar. Panjang dan panjang. Kemenangan mafia Golkar. Elshinta semalam diskusi kekosongan caketum PSSI saat ini. Diperlukan harusnya perombakan total, tak hanya Nurdin Halid yang harus dibekukan, PSSI dan seluruh cabangnya di daerah-daerah harus dibekukan/dibubarkan karena semua yang strategis masih dikuasai Golkar. Inilah ketika Golkar tak dibubarkan sedari awal ketika pelengseran Soeharto 1998. Mahasiswa waktu itu mabuk euporia dan hanya menerima lengsernya Soeharto, padahal sampai saat ini orang-orang Golkar tetap bercokol dimana-mana ngrecoki pemerintahan SBY. Selama SBY dan Menpora tak tegas dan tak membubarkan PSSI, jangan harap situasi berubah. Nurdin boleh pergi, tapi kalau masih banyak orangnya bercokol di cabang-cabang di daerah, percuma.

  3. Agustin

    Terlihat dari tv-tv asing, Libia warganya berdarah-darah. Lebih dari 2000 pengunjuk rasa dibantai brimobnya Kadapi, pemimpin gila Libia itu. Tapi TVOne dan MetroTV bisu, ada apa? Pemred mereka mungkin disuap pemerintah supaya tidak memberitakan revolusi di Timur Tengah, takut merembet ke Indonesia! Tidak menayangkan dan tak lagi diskusikan seperti saat Mubarak digulingkan. Sementara, pemerintah tak lagi evakuasi warganya. Kalau begitu evakuasi Mesir kemarin lebih tepat disebut untuk pencitraaan dong!

  4. Presiden Gombal

    Jangan Cuma Nazar, Buron Koruptor Lain harus Ditangkap!

    JAKARTA – Keberhasilan aparat penegak hukum menangkap Muhammad Nazaruddin di Cartagena, Kolombia dinilai belum cukup. Pemerintah termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus bekerja ekstra untuk menangkap buronan perkara korupsi lainnya.
    “Masih ada 44 buronan lagi yang buron di luar negeri, ini yang harus ditangkap, secara moral, ini adalah kewajiban polisi untuk menghadirkan mereka,” kata Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti, kepada okezone, Senin (8/8/2011) malam.
    Menurut Ray, aparat penegak hukum dibantu pemerintah harusnya bisa dengan mudah menangkap buronan kakap lainnya seperti Nunun Nurbaetie yang menjadi tersangka suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004.
    “Polisi bisa mengetahui Nunun, namun kita patut menduga polisi tidak bisa memulangkannya karena pemerintah tidak punya kemauan,”
    Ray berpendapat, penangkapan buron ataupun pengungkapan kasus korupsi selama ini terkesan hanya karena kemauan politik semata. “Jangan ada lagi anggapan bahwa polisi dapat menangkap jika ada perintah dari SBY saja,” harapnya.
    Seperti diketahui, hingga saat ini buronan perkara korupsi yang ditangani KPK, Polri maupun Kejaksaan Agung masih melenggang bebas di luar negeri. Selain Nunun, sebut saja Anggoro Widjojo, buronan KPK yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan.
    Ada Bambang Soetrisno, Adrian Kiki Ariawan, terpidana seumur hidup kasus BLBI Rp 1,5 triliun. Maria Pauline Lumowa, tersangka pembobolan Bank BNI Rp 1,7 triliun yang diduga kabur ke Belanda. Kemudian Djoko Tjandra yang kabur ke Singapura sebelum putusan vonis dua tahun penjara oleh MA terkait kasus pencairan klaim Bank Bali dibacakan.

    SBY Juga harus Perintahkan Polri Tangkap Nunun
    JAKARTA – Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi perintah kepada Polri membantu penangkapan buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nunun Nurbaetie.
    Ray mengingatkan agar pemerintah termasuk aparat penegak hukum juga memprioritaskan pemburuan sejumlah koruptor termasuk Nunun yang ditetapkan sebagai tersangka kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004.
    “SBY harus segera mengintruksikan untuk menangkap Nunun,” kata Ray Rangkuti kepada okezone, Senin (8/8/2011) malam.
    Menurut Ray, Nunun mestinya mudah ditangkap sama seperti penangkapan buronan KPK Muhammad Nazaruddin di Cartagena, Kolombia pada hari Minggu (7/8/2011) malam.
    “Nazaruddin saja dikejar habis-habisan ke luar negeri, kenapa Nunun dibiarkan? Apakah ini karena SBY tidak menyebut nama lainnya,” kritiknya
    Pemerintah, sambung Ray harus memberi keadilan dalam proses hukum kepada semua koruptor terlebih yang sudah berstatus buronan. Publik, kata Ray menunggu kepastian hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi, baik Nazaruddin, Nunun ataupun lainnya. “Kita bisa melihat ini ada ketidakpastian hukum yang tidak sejajar antara keduanya, Nazar dan Nunun,” pungkasnya.
    KPK mencegah Nunun ke luar negeri pada 24 Maret 2010 sehari sebelum Ditjen Imigrasi mengeluarkan surat cekal terhadap istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun ini.
    Nunun pernah sekali menjalani pemeriksaan di KPK sebagai saksi, awal Oktober 2010 namun setelah itu dia selalu mangkir dengan alasan sakit lupa berat dan tengah menjalani pengobatan di Singapura.
    Status Nunun naik menjadi tersangka pada Februari lalu, namun Ketua KPK Busyro Muqoddas baru mengumumkan status tersangka ini pada rapat kerja bersama Komisi III DPR tanggal 23 Mei 2011.
    Sampai saat ini lokasi keberadaan Nunun belum diketahui. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar pernah menyebut Nunun singgah ke Thailand termasuk ke Pnom Penh, Kamboja akhir Maret lalu.

  5. Jurus dahsyat Presiden SBY. Presiden SBY dipilih rakyat memang untuk menghantam habis kekuatan-kekuatan lama sisa-sisa Orba serta orang-orang bermentalitas Orba di mana saja termasuk yang ada di DPR , militer dan yang lain, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun; mereka banyak tetap bercokol dan bergentayangan di tempat-tempatnya dan bahkan dalam partai- partai pesaing baik berafiliasi dengan Golkar maupun yang lain.
    Bbukan SBY kalau tak hebat. Pada kasus terbaru yakni kasus Nazaruddin misalanya SBY akan mempergunakan dua jurus. Pertama dihantam dengan hebat anak congkak dan banyak omong itu sehingga lunglai akan selesai dalam proses pengadilan kasus tersebut dan rakyat akhirnya kembali bersimpati dengan SBY dan poling-poling berebut menunjukkan peningkatan kinerja SBY khususnya dalam citra pemberantasan korupsi dan juga dalam waktu yang sama kembali menaikkan citra KPK . Untuk saat ini, ketua umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, tak tersentuh. Anas akan tetap aman dan semakin berwibawa. Akbar Tanjungt tak berhasil membalas 1-1. Anas lagi-lagi tak tersentuh. Nazaruddin akan menjadi pesakitan meringkuk di di penjara.
    SBY pintar dan cerdas pelan-pelan memberangus seluruh kekuatan-kekuatan lama dan baru. Partai-partai kekuatan lama terutama Golkar, PDI-P janganlah berkhayal atau sedikit pun bermimpi akan meraih kemenangan berarti. Partai-partai itu sesungguhnya sudah lama selesai, karena memang tidak mempunyai jago-jago mumpuni seperti yang dipunyai dan digenerasi Partai Demokrat meskipun partai ini kesusupan juga beberapa. Partai-partai lama seperti PDI-P dan PAN serta PKB misalnya hanya menjagokan anak-anak tokoh-tokoh reformasi yakni para orangtua mereka, Amien Rais, Megawati dan almarhum Gus Dur. Sementara anak-anak mereka itu sama sekali tidak mewarisi kecerdikan dan keberanian berpolitik para orangtua mereka khususnya Amien Raid dan Gus Dur meski dari sudut pendidikan formal cukup baik. Megawati, sementara, hanya bekas presiden setingkat ibu rumah tangga dan suaminya hanya numpang kren yang selalu kurang ajar menghina dan mengejek SBy sejak masih menkopolkam. S BY dikatakan kekanak-kanakan.
    Partai-partai baru seperti Partai Nasdem dan Partai Sri hanya bermodal pemikiran dangkat tanpa idealism jelas atau bahkan terkesan oportunis dan sama sekali tidak mempunyai satu pun jaringan baik di dalam maupun luar negeri. Itu adalah perjudian ngawur. Apa yang bias dijual dari seorang Sri Mulyani, bekas mekeu itu. Golkar dan PDI-P juga tidak memiliki jaringan pemerintah asing penentu kemenangan yaitu Amerika dan mereka lebih puas disebut sebagai parta-pratia nasionalis tanpa paham apasaja yang harus diperjuangkan sebagai partai nasionalis sesungguhnya. SBY dan Partai Demokrat menang karena antara lain memiliki jaringan kuat dengan lobi-lobi kuat ke pemerintah Amerika.
    Partai Sri, partai berlambang sapu yang salah yaitu menghadap ke atas itu, harusnya sudah dan mulai menjalin lobi-lobi kuat ke orang-orang Tionghoa, bukankah negeri ini dari ujung ke ujung sudah dikuasai Tionghoa, dan ini dibiarkan pemimpin-pemimpin serta tokoh-tokoh pribumi, yang memang tolol, serta melobi konkrit ke pemerintah Amerika misalnya dengan mampu menunjukkan bukti-bukti bahwa pemerintahan Partai Demokrat memang selama ini tidak benar. Lobi bias melalui email ke institusi-insitusi pemerintah Amerika, ke kedutaan mereka dan banyak jalan. Pertanyaannya apakah partai berlambang sapu menyapu ke atas dan juga partai-partai pesaing lain, memiliki ide dan kemamapuan seperti itu adalah tidak ada sama sekali. Itulah maka PD kian di atas angin dan tak terkalahkan termasuk ketua pembinanya SBY dan ketumnya Anas.
    Ini sebetulnya dan terutama tantangan dan PR partai-partai pesaing PD terutama Golkar dan PDI-P kalau hendak merebut kemenangan pada 2014. Tetapi bagaimana akan mampu merebut kalau menciptakan citra negatif, sebuah permainan politik agar PD tidak diminati lagi saja, tidak mampu. Meskipun Nazaruddin dan kasus-kasus besar lainnya jelas dan nyata sebuah pintu masuk strategis untuk menjatuhkan citra dan kelemahan pemerintahan SBY dan SBY serta partai Demokratnya, tetapi kalau hal yang tinggal menjatuhkan telur dari atas tanduk saja tidak mampu sama sekali, bagaimana mungkin memberikan perlawanan kepada SBY dan Partai Demokrat? Jadi janganlah partai-partai lain bermimpi karena sebetulnya partai-partai pesaing itu terlalu miskin siasat dan terlalu tak ebrkualitas dan mungkin terlalu kecil, tidak lawan dengan Partai Demokrat dan kebesaran SBY. Sementara sekali lagi partai-partai cukup besar dan lama seperti Golkar dan PDI-P sudah selesai sudah aus di mata konsituen dan rakyat.
    Adakah jalan lain mengalahkan SBY dan PD. Sebetulnya Partai Demokrat terutama ketua pembinanya yang kini jadi presiden memiliki banyak kelemahan 1001 kelemahan tetapi juga memiliki sedikit kekuatan lumayan, yakni kepandaiannya membuat pencitraan dengan mulai menggabungkan dengan taktik gaya-gaya Orba yaitu memanfaatkan nilai-nilai agama khususnya Islam dalam setiap kesempatan keagamaan seolah berjuang untuk kaum Muslim dan nilai-nilai keislaman. Padahal itu semua palsu seperti yang selama dulu dilakukan Soeharto, hanya untuk mempertahankan kekuasaannya. SBY lebih jago. Dia lemah lembut dan pandai merebut hati dan simpati serta rasa kasihan dari rakyat. Rakyat-rakyat di kampong-kampung selalu mengatakan kasihan dia orangnya baik. Hebat. Kelemahan SBY adalah keterlaluannya dalam mengalihkan isu-isu akibat kelemahannya tidak mampu mengundang banyak pabrik-pabrik asing sehingga tersedianya banyak lapangan kerja bagi banyak buruh, harga-harga tetap melambung tinggi, took-toko kebutuhan sehari-hari jaringan seperti indomart dan toko-toko jaringan asing lainnya kian banyak yang membunuh usaha-usaha pertokoan rakyat, padahal pemilik jaringan itu secara local adalah mantan-mantan anggota DPR.Tokoh-tokoh Golkar lama adalah pemilik jaringan-jaringan bisnis itu. SBy mampu mengalihkan berbagai isu penting ekonomi dan hokum Indonesia termasuk melalui pemanfaatan maksimal blow up kasus Nazaruddin dan lainnya dengan sangat lihai sehingga 1001 pengamat Indonesia larut dan terjebak terus dalam wacana membahas masalah-masalah itu karena nimat mendapat sedikit amplop ongkos capek dari televise-televisi yang ada, sementara masalah-masalah utama ekonomi dan pembangunan tidak jalan dalam pemerintahan SBY karena SBY sendiri memang dipandang sebelah mata atau tidak diindahkan oleh banyak pemprop. Ini beda dengan Soeharto yang memang jebat dari awal dan menunjukkan kewibawaan sejati. Media yang dimiliki konglomerat Tionghoa hampir semuanya tentu mencari aman dan senang terus membahas hal-hal sensasional seperti kasus Nazaruddin di lain pihak. SBY kian diuntungkan dengan media ful cari untung itu yang tidak memkritisi nyata atau mampu menekan apa-apa saja yang telah dia bangun dan sediakan untuk sebagian besar rakyat. Media-media itu hanya menggosok-gosok untuk mendapatkan iklan-iklan kampanye atau pencitraan dari pemerintah bagian pariwisata atau institusi-insitusi partai berkuasa dan lainnya sembari terus memuat iklna-iklan kiat ngentot dan memperpanjanag itunya lelaki atau mempersempit itunya wanita. Tak ada UU yang melarang iklan-iklan bohong di Indonesia.
    Bahkan pembenahan pokok seperti pemberantasan korupsi dan hukum yang berkeadilan juga tak kunjung serius dibenahi kecuali justru hanya untuk memperbesar citra partai karena tidak ada lawan nekad dan tangguh seperti di luar negeri, tidak ada takyat yang didisain dan dipicu mengamuk seperti di Inggris, Perancis, Yunani dll. Maka SBY hapi hapi saja dan kian nikmat untuk melupakan penciptaan sistem ekonomi yang social, pendidikan dan merata, atau jalan menuju kesejahteraan ala konstitusinya.
    Sesungguhnya jalan satu-satunya mengalahkan Partai Demokrat dan pemerintahan SBY adalah kalau pesaing-pesaingnya memang tak impoten. Meski banyak mantan jenderal di partai-partai pesaing tetapi mereka sudah impoten. Mereka pengecut dan tidak berani merancang dan melaksanakan kerusuhan masif terencana dan terkoordinir dengan pemicu apapun terang maupun rahasia seperti di Negara-negara lain yang mampu mencipta kerusuhan besar seperti juga pada tahun 1998. Hanya dengan begitu SBY akan jatuh. Kalau tidak maka dia aman dan justru semakin hebat. Karena tak ada perlawanan nyata maka Partai Demokrat dan SBY, terutama keturunan keluarga itu, pasti semakin bernilai dan akan merebut masa depan kekuasaan di Indonesia. Memang sebetulnya tidak ada yang sederajat kemampuannya dan kehebatan Partai Demokrat. Meskipun banyak orang boleh tak suka partai berlambang bintang mercy itu tetapi dia memang tak ada tandingannya. Enggak lawan, kata anak sekarang.
    Jurus kedua SBY tentu lebih hebat lagi. Anas pada akhirnya akan dikorbankan. Ini hanya soal waktu. SBY sudah banyak belajar dari bekas presiden dan ditator Soeharto. SBY juga sudah banyak ditekan agar mempergunakan strategi-strategi dan kiat-kiat presiden kedua itu. SBY akan telah mulai menekan Polri dan BIN agar mulai menyisihkan lawan-lawanya baik di luar maupun di dalam partai yang disayang oleh Ibu Ani Yudhoyono. Polisi, jaksa dan pengadilan khususnya KPK pun akan menjantur Anas, sebab Anas memang terlibat dalam korupsi dana APBN untuk pembangunan wisma atlet itu untuk memenangkan dirinya sebagai ketua umum Partai Demokrat. Sebetulnya bagi partai-partai pesaing, menjatuhkan Anas dan termasuk menjatuhkan SBY sangat mudah seperti menyentuh telur di ujung tanduk. Melalui kasus-kasus besar yag mana juga, mereka harusnya bias mengalahkan. Tetapi lagi-lagi memang enggak ada lawab, kata anak-anak sekarang. Nazaruddin adalah peniup pluit yang malang. Dia akan memberikan fakta-fakta nyata tetapi negara ini tetaplah negara kekuasaan. Dia akan pada akhirnya dimasukkan penjara. Anas karena tekanan dan lobi-lobi kuat dari partai-partai pesaing, maka akan masuk penjara juga. KPK dan SBY akan didemo masif jika tidak menjebloskan juga Anas. (SK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s